Kawasan Timur Tengah kembali memanas. Aksi saling serang meluas dan berdampak pada jalur perdagangan global, khususnya yang melewati Selat Hormuz. Situasi ini tidak hanya mempengaruhi negara yang terlibat langsung dalam konflik, tetapi juga negara lain, termasuk Indonesia.
Dampak perang Timur Tengah terhadap ekonomi Indonesia mulai terlihat dari gangguan rantai pasokan energi, kenaikan harga minyak global, hingga potensi penurunan penerimaan perpajakan.
Gangguan Jalur Perdagangan di Selat Hormuz
Memanasnya situasi di Timur Tengah menyebabkan jalur perdagangan melalui Selat Hormuz terhambat. Bahkan, beberapa kapal tanker dilaporkan dilarang melintas di jalur yang menjadi salah satu rute pelayanan utama dari dan ke Asia tersebut. Kondisi ini memicu kelangkaan pasokan bahan bakar di berbagai negara.
Bagi Indonesia, Selat Hormuz memiliki peran penting dalam rantai pasokan energi. Sekitar 20% hingga 25% impor minyak Indonesia melalui selat ini. Bahkan secara khusus, 20,4% impor minyak Pertamina juga melewati jalur yang memisahkan Iran dengan Uni Emirat Arab tersebut.
Hal ini terjadi karena sebagian besar impor minyak Pertamina berasal dari negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak.
Hubungan Perdagangan Indonesia dengan Negara Teluk
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2025, Indonesia sebenarnya memiliki neraca perdagangan yang positif dengan negara-negara teluk. Artinya, nilai ekspor Indonesia ke kawasan tersebut lebih besar dibandingkan nilai impornya.
Komoditas utama ekspor Indonesia ke negara-negara teluk meliputi minyak nabati, kendaraan, logam mulia, besi dan baja, bahan kimia, hingga buah-buahan. Nilai ekspor Indonesia ke kawasan teluk diperkirakan mencapai lebih dari 4 miliar USD.
Perang Mendorong Kenaikan Harga Minyak Global
Ancaman terhadap rantai pasokan energi di Timur Tengah juga mendorong kenaikan harga minyak dunia. Sejak perang di kawasan teluk meletus, harga minyak mentah mengalami peningkatan signifikan.
Mengacu pada halaman oil price, minyak mentah berjangka Brent melonjak 8,52% ke 92,69 USD per barel. Sementara itu, harga minyak mentah berjangka WTI AS tembus 90,90 USD per barel usai naik 12,2%. Kenaikan harga energi global ini berpotensi memberikan tekanan pada perekonomian negara-negara yang bergantung pada impor minyak, termasuk Indonesia.
Tekanan Inflasi Dalam Negeri
Walaupun Indonesia tidak terlibat langsung dalam konflik di Timur Tengah, dampak ekonominya tetap terasa. Peningkatan harga minyak dan terganggunya jalur perdagangan berpotensi mendorong inflasi domestik.
Secara logika ekonomi, kenaikan harga bahan bakar minyak dan biaya transportasi akan meningkatkan harga berbagai barang, termasuk pangan. Data Bank Indonesia menunjukkan inflasi mengalami peningkatan dalam beberapa bulan terakhir:
- Desember 2025: 2,92%
- Januari 2026: 3,55%
- Februari 2026: 4,76%
Kenaikan inflasi ini menunjukkan adanya tekanan harga yang semakin meningkat dalam perekonomian domestik.
Gejolak Pasar Keuangan
Selain mempengaruhi sektor riil, perang di Timur Tengah juga berdampak pada pasar keuangan. Pasar keuangan sangat sensitif terhadap isu geopolitik dan keamanan global. Ketika ketegangan meningkat, investor biasanya memindahkan dananya ke instrumen yang dianggap lebih aman, seperti emas atau logam mulia lainnya.
Kondisi ini tercermin dari melemahnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menunjukkan meningkatnya volatilitas pasar keuangan.
Dampak terhadap Penerimaan Pajak
Di sisi perpajakan, perang di Timur Tengah juga berpotensi menurunkan penerimaan pajak Indonesia. Hal ini disebabkan struktur penerimaan perpajakan yang masih bergantung pada komoditas seperti batu bara, timah, hingga nikel.
Ketergantungan pada harga dan volume penjualan komoditas membuat struktur penerimaan pajak menjadi rentan terhadap perubahan kondisi ekonomi global. Ketika biaya transportasi meningkat dan perdagangan komoditas melambat, penjualan komoditas berpotensi menurun. Akibatnya, penerimaan pajak juga mengalami penurunan.
Perlambatan Ekonomi dan Dampaknya pada Konsumsi
Selain itu, inflasi yang meningkat serta perlambatan pertumbuhan ekonomi dapat menurunkan tingkat konsumsi dalam negeri. Ketika konsumsi masyarakat melemah, aktivitas ekonomi juga ikut menurun.
Meskipun Indonesia tidak terlibat langsung dalam konflik di kawasan Timur Tengah, dampak ekonominya tetap signifikan. Gangguan jalur perdagangan, kenaikan harga minyak, inflasi, serta volatilitas pasar keuangan dapat menekan perekonomian domestik. Dalam jangka lanjut, kondisi ini berpotensi mempengaruhi penerimaan perpajakan Indonesia.
Baca Juga:
https://ideatax.id/id/articles/pph-pasal-26-pajak-atas-wajib-pajak-luar-negeri
https://ideatax.id/id/articles/pajak-atas-pengalihan-tanah-dan-bangunan
https://ideatax.id/id/articles/delta-spt-lebih-bayar-dalam-era-coretax


